BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada
saat ini zaman telah berkembang dengan pesat. Akibatnya banyak perubahan
perubahan yang terjadi baik dalam bidang sosial maupun pendidikan. Seperti
kurikulum yang karena adanya perubahan zaman, maka turut berubah pula.
Sayangnya merubah kurikulum tidak semudah yang kita bayangkan. Masih banyak
faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Dan perlu adanya kerjasama antara
pemerintah dan pihak sekolah dalam hal mendukung perubahan kurikulum. Nyatanya
perubahan kurikulum ini sangat diperlukan guna menyeimbangkan antara apa yang
diajarkan di sekolah dengan realita kehidupan yang telah berkembang pesat.
Dalam sejarah pendidikan, kurikulum sudah beberapa kali diadakan perbaikan dan
perubahan agar sesuai dengan perkembangan zaman ini.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa
yang dimaksud sosiologi kurikulum?
2.
Bagaimana
perkembangan kurikulum saat ini?
3.
Bagaimana
dampak perubahan kurikulum terhadap peserta didik saat ini?
4.
Bagimana
hubungan sosiologi kurikulum dengan perkembangan pendidikan?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Memberkan
gambaran tentang sosiologi kurikulum.
2.
Mengetahui
perkembangan kurikulum saat ini.
3.
Mengetahui
dampak perubahan kurikulum terhadap peserta didik.
4.
Mengetahui
hubungan sosiologi kurikulum dengan perkembangan pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sosiologi
Kurikulum
Sosiologi
adalah suatu ilmu pengetahuan yang memiliki lapangan penyelidikan, sudut
pandang, metode, serta sususan pengetahuan dan objeknya adalah tingkah laku
manusiadalam kelompok.
Kurikulum adalah
situasi dan kondisi yang ada untuk mengubah sikap anak. Definisi ini berarti:
bahwa situasi itu diarahkan atau dipimpin kepada pencapaian tujuan yang
telah ditentukan.
Jadi sosiologi
kurikulum adalah perubahan tingkah laku manusia yang dilakukan dalam bidang pendidikan untuk pencapaian
tujuan yang telah ditentukan.
2.2 Perkembangan Kurikulum Saat Ini
Kurikulum mata pelajaran yang tradisional, awal mulanya di abad
pertengahan, yang dikenal dengan sebutan “seven liberal arts” (tujuh
pengetahuan umum). Oleh St Augustine didalam bukunya “Retraction” menyebutkan
dengan tujuh disiplin (seven discipline). Seven liberal arts tadi bukanlah
sekedar suatu latihan mata pelajaran, tetapi berkaitan erat dengan peranan dan
fungsi seseorang setidak-tidaknya dalam tiga profesi penting. Dari ketujuh
disiplin (disebut trivium), pada dasarnya merupakan telaah bahasan, yaitu
terdiri dari tata bahasa, retorika, logika atau dialektika. Trivium tersebut
merupakan prasyarat untuk melanjutkan keempat disiplin berikutnya. Keempat
disiplin berikutnya (disebut quadrivium), yaitu ilmu hitung, geometri,
astronomi, dan seni musik.
Akan tetapi setelah masyarakat mengalami perubahan dan kemajuan, maka
pendidikan seperti itu tidak serasi lagi, anak-anak harus memiliki berbagai
macam keterampilan dan sejumlah besar pengetahuan agar hidupnya terjamin.
Karena itulah dilakukan perubahan kurikulum dari masa ke masa.
Di Indonesia perubahan kurikulum sendiri sudah dilakukan 11 kali perubahan.
Baru baru ini digunakan dua kurikulum yaitu KTSP dan K13. K13 merupakan
kurikulum terbaru dimana setiap siswa
dituntut untuk aktif dalam pembelajaran tanpa harus menunggu seorang guru
memberikan materi. Kurikulum 2013
memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan
aspek sikap dan perilaku. Namun, Kurikulum 2013 ini belum bisa diterima di
semua sekolah. Hanya beberapa sekolah diperkotaan saja yang dapat
menjalankannya, sedangkan di pedesaan masih menggunakan KTSP.
2.3
Dampak Perubahan Kurikulum
Terhadap Anak Didik
Berdasarkan
pengertiannya kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman untuk menggunkan aktivitas belajar mengajar.
Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncakan dan dilaksanakan
dalam mencapai tujuan pendidikan
Apabila
masyarakat dinamis kebutuhan anak didikpun akan dinamis sehingga tidak tersaing
dalam masyarakat, karena memang masyarakat berubah berdasarkan kebutuhan itu
sendiri. Kurikulum juga sebagai pedoman mendasar dalam proses belajar mengajar
di dunia pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu pendidikan, mampu tidaknya
seseorang anak didik dan pendidik dalam menyerap dan memberikan pengajaran dan
sukses tidaknya tujuan.
Bila
kurikulumnya didesain dengan sistematis dan komprehensif serta intregral dengan
segala kebutuhan pengembangan dan pembelajaran anak didik untuk mempersiapkan
diri menghadapi kehidupannya, tentu hasil/output pendidikan pun akan mampu
mewujudkan harapan.Tetapi jikatidak, kegagalan demi kegagalan akan terus
menerus membayangi dunia pendidikan.
Suatu contoh
pada era modern ini, perubahan ktsp 2006 yang hanya mengandalkan sistem
”ceramah” oleh guru menjadi k13 dimana siswa dituntut lebih aktif dan guru
hanya sebagai fasilitator. Hal itu memberi dampak bagi peserta didik karena
ketidak siapan mereka untuk lebih berani menyampaikan pendapat serta mencari
wawasan dan pengetahuan tidak hanya bersumber dari guru dan sekolah. Anak didik
dituntut untuk mendapatkan informasi bukan hanya dari sekolah melainkan dari
lingkungan kehidupannya.
Adanya
perubahan kurikulum dapat berdampak baik dan buruk bagi mutu pendidikan, dimana
dampak baiknya yaitu anak didik bisa belajar dengan mengikuti perkembangan
zaman yang semakin maju tapi didukung dengan faktor-faktor seperti kepala
sekolah, guru, tenaga pengajar, peserta didik bahkan lembaga itu sendiri.
Dimana kepala sekolah harus berhubungan baik dengan atasannya dan membina
hubungan baik dengan bawahannya, lalu guru juga harus bermutu, maksudnya
gurunya harus memberi pelajaran yang dapat dicerna oleh peserta didik, siswa
juga harus bermutu, maksudnya siswa dapat belajar dengan baik, giat belajar
serta kritis dalam setiap pelajaran. Dampak negatifnya adalah mutu pendidikan
bisa menurun dan perubahan kurikulum yang begitu cepat bisa menimbulkan
masalah-masalah baru seperti menurunnya prestasi anak didik, hal ini
dikarenakan siswa belum dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran pada
kurikulum yang baru.
2.4 Hubungan Sosiologi
Kurikulum dengan
Perkembangan Pendidikan
Berdasarkan kacamata sosiologis, seseorang di didik dalam konteks
masyarakatnya, dan hidup dalam konteks masyarakatnya. Di era dewasa ini
pendidikan bertugas mengantarkan anak didik ke dunia masyarakatnya dan ke dunia
pengetahuan. Sebuah tesis yang menyatakan bahwa kepribadian dan mentalitas
seseorang juga ditentukan oleh perkembangan pendidikannya. Maka dari itu
Diperlukan perubahan kurikulum sebagai tuntutan masyarakat indonesia
Istilah kurikulum tersebut ditempatkan dalam suatu jangkauan perspektif
yang lebih luas, bukan sekedar dikaitkan dg upaya pendidikan dalam sistem
persekolahan, tetapi dikaitkan dengan segala macam upaya yang membawa misi
pembinaan kepribadian bangsa. Dalam kaitan dimaksud, termasuk juga pesan atau
misi pendidikan melalui cerita film, novel, komik, wayang, drama atau
sandiwara, kotbah atau penyuluhan keagamaan, asuhan atau didikan di rumah
tangga, serta berbagai bentuk dan medium lainnya dari upaya pembinaan
kepribadian bangsa.
Kurikulum pembinaan bangsa dalam
artian luas itulah menjadi perhatian bahasan ini. Kurikulum dimaksud barangkali
sudah saatnya untuk dinilai dan selanjutnya dimodifikasi sedemikian rupa,
sehingga lebih sejalan dengan tuntutan masyarakat maju-modern. Mengapa
demikian?
Dalam era pembangunan selama ini,
bermacam-macam program dan inovasi pembangunan yang dirancangkan oleh
pemerintah. Gagasan Keluarga berencana digalakkan. Modernisasi pertanian
digalakkan. Hidup sederhana dan ekonomis juga digalakkan. Disamping itu juga
banyak program-program pembangunan lainnya yang dirancang dan diintrodusir oleh
pemerintah. Sehubungan dengan seribu satu macam program pembangunan yang di
masyarakatkan oleh pemerintah itu, nampaknya begitu kuat yang dihambat dan
dirintangi oleh mentalitas dari bangsa ini. Tatanan yang mengeras dan
mentradisi apabila ditelusuri sebenarnya merupakan buah atau produk dari
“kurikulum” kemasyarakatan yang selama ini menyertai perjalanan sejarah bangsa
ini. Lalu bagaimana mesti mengubahnya?
Untuk memperlicin gerak maju bangsa
ini, rasanya amat mendesak untuk mengubah “kurikulum” kemasyarakat yang
terpakai sekarang ini. Dalam hubungan ini tentu saja diperlukan pengajian yang
cermat tentang ciri tatanan dan mentalitas maju-modern itu sendiri. Di samping
itu, juga diperlukan penelitian dan analisis yang cermat tentang dosis dari
aspek-aspek yang di “kurikulum” kan selama ini; mana-mana yang dosisnya
berlebihan-memadai-kekurangan.
Bertolak dua macam informasi kunci
tersebut, berikutnya tinggal menetapkan “kurikulum baru” di dalam rangka pembinaan
dan pengembangan bangsa ini. Dalam hubungan ini diperlukan keberanian sikap
untuk menentukan pilihan dan keputusan tentang: aspek-aspek mana yang perlu
dikurangi dosisnya, aspek-aspek mana yang perlu ditambah dosisnya dan
aspek-aspek mana yang untuk sementara dapat diabaikan sama sekali.
Katakanlah “kurikulum baru” sudah
ditetapkan. Persoalannya sekarang adalah, bagaimana memobilisir
pranata-pranata kemasyarakatan yang ada guna menerapkan kurikulum baru tadi.
Inilah persoalan yang paling sulit, karena tidak mudah menggerakkan para kepala
sekolah dan guru dalam rangka mernerapkan kurikulum baru di sistem
persekolahan. Walaupun demikian, semuanya banyak bergantung pada tekat
pemerintah, dan itulah akhir dari kunci soal “Ada kemauan apa tidak dari pemerintah?”.
Kenyataan
menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara sosilogi kurikulum dan
perkembangan pendidikan, dimana perubahan tingkah laku yang didasari oleh
adanya target yang harus dicapai melalui gerbang pendidikan sangat berpengaruh
dengan perkembangan pendidikan anak didik tersebut . Jika sosiologi kurikulum
sudah tercapai sesuai target yang ditentukan maka pendidikan anak didik
tersebut akan berkembang dengan sendirinya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Melihat uraian
pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sosiologi kurikulum sangat
erat hubungannya dengan perkembangan pendidikan. Karena dengan sosiologi
kurikulum kita bisa mengetahui perubahan tingkah laku anak didik yang berdampak
pada perkembangan pendidikannya. Sedangkan untuk bisa mengetahui perkembangan
pendidikan anak didik bisa dilihat pada sosiologi kurikulum tersebut. Perubahan
kurikulum juga berdampak pada anak didik, baik dampak negatif maupun positif.
3.2 Saran
Setelah membaca
dan memahami makalah ini, semoga pembaca dapat mengerti tentang sosiologi
kurikulum dan perkembangan pendidikan serta hubungan antar keduanya. Kami juga
memohon kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat disempurnakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Gonibala, Muhammad Nur Hasan. 2013. Dampak
dari perubahan kurikulum. (Online), (muhammadgonibala.blogspot.co.id/2013/11/dampak-dari-perubahan-kurikulum,
diakses 13 November 2013).
Widyana, Aminnatul. 2011. Sosiologi kurikulum dan Perkembangan
Pendidikan. (Online), (aminnatul-widyana.blogspot.com/2011/07/sosiologi-kurikulum-dan-perkembangan_24,
diakses 24 Juli 2011).
Azwar, Sahlan. 2012.Asas Sosiologi Kurikulum. (Online), (sahlanazwar.blogspot.com/2012/04/asas-sosiologi-kurikulum,
diakses 28 April 2012).
Mundzir, HS., dan Sanaplah Faisal Saleh. 2006. Sosiologi
Pendidikan. Malang:
FIP Universitas Negeri Malang.
Halo... Boleh nitip link gak? Itu utk daftar pustaka atas namaku Aminnatul Widyana, tolong diganti dg www.amiwidya.com
BalasHapusHubungi aq di 085232632515 utk informasi lebih jelasnya.