Jumat, 10 Februari 2017

Sosiologi Kurikulum dan Perkembangan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada saat ini zaman telah berkembang dengan pesat. Akibatnya banyak perubahan perubahan yang terjadi baik dalam bidang sosial maupun pendidikan. Seperti kurikulum yang karena adanya perubahan zaman, maka turut berubah pula. Sayangnya merubah kurikulum tidak semudah yang kita bayangkan. Masih banyak faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Dan perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan pihak sekolah dalam hal mendukung perubahan kurikulum. Nyatanya perubahan kurikulum ini sangat diperlukan guna menyeimbangkan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan realita kehidupan yang telah berkembang pesat. Dalam sejarah pendidikan, kurikulum sudah beberapa kali diadakan perbaikan dan perubahan agar sesuai dengan perkembangan zaman ini.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud sosiologi kurikulum?
2.      Bagaimana perkembangan kurikulum saat ini?
3.      Bagaimana dampak perubahan kurikulum terhadap peserta didik saat ini?
4.      Bagimana hubungan sosiologi kurikulum dengan perkembangan pendidikan?

1.3 Tujuan Penulisan
1.      Memberkan gambaran tentang sosiologi kurikulum.
2.      Mengetahui perkembangan kurikulum saat ini.
3.      Mengetahui dampak perubahan kurikulum terhadap peserta didik.
4.      Mengetahui hubungan sosiologi kurikulum dengan perkembangan pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sosiologi Kurikulum
Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode, serta sususan pengetahuan dan objeknya adalah tingkah laku manusiadalam kelompok.
Kurikulum adalah situasi dan kondisi yang ada untuk mengubah sikap anak. Definisi ini berarti: bahwa situasi itu diarahkan atau dipimpin kepada pencapaian tujuan yang telah   ditentukan.
Jadi sosiologi kurikulum adalah perubahan tingkah laku manusia yang dilakukan  dalam bidang pendidikan untuk pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
                                                
2.2 Perkembangan Kurikulum Saat Ini
Kurikulum mata pelajaran yang tradisional, awal mulanya di abad pertengahan, yang dikenal dengan sebutan “seven liberal arts” (tujuh pengetahuan umum). Oleh St Augustine didalam bukunya “Retraction” menyebutkan dengan tujuh disiplin (seven discipline). Seven liberal arts tadi bukanlah sekedar suatu latihan mata pelajaran, tetapi berkaitan erat dengan peranan dan fungsi seseorang setidak-tidaknya dalam tiga profesi penting. Dari ketujuh disiplin (disebut trivium), pada dasarnya merupakan telaah bahasan, yaitu terdiri dari tata bahasa, retorika, logika atau dialektika. Trivium tersebut merupakan prasyarat untuk melanjutkan keempat disiplin berikutnya. Keempat disiplin berikutnya (disebut quadrivium), yaitu ilmu hitung, geometri, astronomi, dan seni musik.
Akan tetapi setelah masyarakat mengalami perubahan dan kemajuan, maka pendidikan seperti itu tidak serasi lagi, anak-anak harus memiliki berbagai macam keterampilan dan sejumlah besar pengetahuan agar hidupnya terjamin. Karena itulah dilakukan perubahan kurikulum dari masa ke masa.
Di Indonesia perubahan kurikulum sendiri sudah dilakukan 11 kali perubahan. Baru baru ini digunakan dua kurikulum yaitu KTSP dan K13. K13 merupakan kurikulum terbaru dimana  setiap siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran tanpa harus menunggu seorang guru memberikan materi. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Namun, Kurikulum 2013 ini belum bisa diterima di semua sekolah. Hanya beberapa sekolah diperkotaan saja yang dapat menjalankannya, sedangkan di pedesaan masih menggunakan KTSP.

2.3 Dampak Perubahan Kurikulum Terhadap Anak Didik
Berdasarkan pengertiannya kurikulum  merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunkan aktivitas belajar mengajar. Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncakan dan dilaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan
Apabila masyarakat dinamis kebutuhan anak didikpun akan dinamis sehingga tidak tersaing dalam masyarakat, karena memang masyarakat berubah berdasarkan kebutuhan itu sendiri. Kurikulum juga sebagai pedoman mendasar dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Berhasil atau tidaknya suatu pendidikan, mampu tidaknya seseorang anak didik dan pendidik dalam menyerap dan memberikan pengajaran dan sukses tidaknya tujuan.
Bila kurikulumnya didesain dengan sistematis dan komprehensif serta intregral dengan segala kebutuhan pengembangan dan pembelajaran anak didik untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupannya, tentu hasil/output pendidikan pun akan mampu mewujudkan harapan.Tetapi jikatidak, kegagalan demi kegagalan akan terus menerus membayangi dunia pendidikan.
Suatu contoh pada era modern ini, perubahan ktsp 2006 yang hanya mengandalkan sistem ”ceramah” oleh guru menjadi k13 dimana siswa dituntut lebih aktif dan guru hanya sebagai fasilitator. Hal itu memberi dampak bagi peserta didik karena ketidak siapan mereka untuk lebih berani menyampaikan pendapat serta mencari wawasan dan pengetahuan tidak hanya bersumber dari guru dan sekolah. Anak didik dituntut untuk mendapatkan informasi bukan hanya dari sekolah melainkan dari lingkungan kehidupannya.
Adanya perubahan kurikulum dapat berdampak baik dan buruk bagi mutu pendidikan, dimana dampak baiknya yaitu anak didik bisa belajar dengan mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju tapi didukung dengan faktor-faktor seperti kepala sekolah, guru, tenaga pengajar, peserta didik bahkan lembaga itu sendiri. Dimana kepala sekolah harus berhubungan baik dengan atasannya dan membina hubungan baik dengan bawahannya, lalu guru juga harus bermutu, maksudnya gurunya harus memberi pelajaran yang dapat dicerna oleh peserta didik, siswa juga harus bermutu, maksudnya siswa dapat belajar dengan baik, giat belajar serta kritis dalam setiap pelajaran. Dampak negatifnya adalah mutu pendidikan bisa menurun dan perubahan kurikulum yang begitu cepat bisa menimbulkan masalah-masalah baru seperti menurunnya prestasi anak didik, hal ini dikarenakan siswa belum dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran pada kurikulum yang baru.

2.4 Hubungan Sosiologi Kurikulum dengan Perkembangan Pendidikan
Berdasarkan kacamata sosiologis, seseorang di didik dalam konteks masyarakatnya, dan hidup dalam konteks masyarakatnya. Di era dewasa ini pendidikan bertugas mengantarkan anak didik ke dunia masyarakatnya dan ke dunia pengetahuan. Sebuah tesis yang menyatakan bahwa kepribadian dan mentalitas seseorang juga ditentukan oleh perkembangan pendidikannya. Maka dari itu Diperlukan perubahan kurikulum sebagai tuntutan masyarakat indonesia
Istilah kurikulum tersebut ditempatkan dalam suatu jangkauan perspektif yang lebih luas, bukan sekedar dikaitkan dg upaya pendidikan dalam sistem persekolahan, tetapi dikaitkan dengan segala macam upaya yang membawa misi pembinaan kepribadian bangsa. Dalam kaitan dimaksud, termasuk juga pesan atau misi pendidikan melalui cerita film, novel, komik, wayang, drama atau sandiwara, kotbah atau penyuluhan keagamaan, asuhan atau didikan di rumah tangga, serta berbagai bentuk dan medium lainnya dari upaya pembinaan kepribadian bangsa.
            Kurikulum pembinaan bangsa dalam artian luas itulah menjadi perhatian bahasan ini. Kurikulum dimaksud barangkali sudah saatnya untuk dinilai dan selanjutnya dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga lebih sejalan dengan tuntutan masyarakat maju-modern. Mengapa demikian?
            Dalam era pembangunan selama ini, bermacam-macam program dan inovasi pembangunan yang dirancangkan oleh pemerintah. Gagasan Keluarga berencana digalakkan. Modernisasi pertanian digalakkan. Hidup sederhana dan ekonomis juga digalakkan. Disamping itu juga banyak program-program pembangunan lainnya yang dirancang dan diintrodusir oleh pemerintah. Sehubungan dengan seribu satu macam program pembangunan yang di masyarakatkan oleh pemerintah itu, nampaknya begitu kuat yang dihambat dan dirintangi oleh mentalitas dari bangsa ini. Tatanan yang mengeras dan mentradisi apabila ditelusuri sebenarnya merupakan buah atau produk dari “kurikulum” kemasyarakatan yang selama ini menyertai perjalanan sejarah bangsa ini. Lalu bagaimana mesti mengubahnya?
            Untuk memperlicin gerak maju bangsa ini, rasanya amat mendesak untuk mengubah “kurikulum” kemasyarakat yang terpakai sekarang ini. Dalam hubungan ini tentu saja diperlukan pengajian yang cermat tentang ciri tatanan dan mentalitas maju-modern itu sendiri. Di samping itu, juga diperlukan penelitian dan analisis yang cermat tentang dosis dari aspek-aspek yang di “kurikulum” kan selama ini; mana-mana yang dosisnya berlebihan-memadai-kekurangan.
            Bertolak dua macam informasi kunci tersebut, berikutnya tinggal menetapkan “kurikulum baru” di dalam rangka pembinaan dan pengembangan bangsa ini. Dalam hubungan ini diperlukan keberanian sikap untuk menentukan pilihan dan keputusan tentang: aspek-aspek mana yang perlu dikurangi dosisnya, aspek-aspek mana yang perlu ditambah dosisnya dan aspek-aspek mana yang untuk sementara dapat diabaikan sama sekali.
            Katakanlah “kurikulum baru” sudah ditetapkan.  Persoalannya sekarang adalah, bagaimana memobilisir pranata-pranata kemasyarakatan yang ada guna menerapkan kurikulum baru tadi. Inilah persoalan yang paling sulit, karena tidak mudah menggerakkan para kepala sekolah dan guru dalam rangka mernerapkan kurikulum baru di sistem persekolahan. Walaupun demikian, semuanya banyak bergantung pada tekat pemerintah, dan itulah akhir dari kunci soal “Ada kemauan apa tidak dari pemerintah?”.        
Kenyataan menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara sosilogi kurikulum dan perkembangan pendidikan, dimana perubahan tingkah laku yang didasari oleh adanya target yang harus dicapai melalui gerbang pendidikan sangat berpengaruh dengan perkembangan pendidikan anak didik tersebut . Jika sosiologi kurikulum sudah tercapai sesuai target yang ditentukan maka pendidikan anak didik tersebut akan berkembang dengan sendirinya.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Melihat uraian pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sosiologi kurikulum sangat erat hubungannya dengan perkembangan pendidikan. Karena dengan sosiologi kurikulum kita bisa mengetahui perubahan tingkah laku anak didik yang berdampak pada perkembangan pendidikannya. Sedangkan untuk bisa mengetahui perkembangan pendidikan anak didik bisa dilihat pada sosiologi kurikulum tersebut. Perubahan kurikulum juga berdampak pada anak didik, baik dampak negatif maupun positif.

3.2 Saran
Setelah membaca dan memahami makalah ini, semoga pembaca dapat mengerti tentang sosiologi kurikulum dan perkembangan pendidikan serta hubungan antar keduanya. Kami juga memohon kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat disempurnakan.



DAFTAR PUSTAKA

Gonibala, Muhammad Nur Hasan. 2013. Dampak dari perubahan kurikulum. (Online),  (muhammadgonibala.blogspot.co.id/2013/11/dampak-dari-perubahan-kurikulum, diakses 13 November 2013).
Widyana, Aminnatul. 2011. Sosiologi kurikulum dan Perkembangan Pendidikan. (Online), (aminnatul-widyana.blogspot.com/2011/07/sosiologi-kurikulum-dan-perkembangan_24, diakses 24 Juli 2011).
Azwar, Sahlan. 2012.Asas Sosiologi Kurikulum. (Online), (sahlanazwar.blogspot.com/2012/04/asas-sosiologi-kurikulum, diakses 28 April 2012).
Mundzir, HS., dan Sanaplah Faisal Saleh. 2006. Sosiologi Pendidikan. Malang:
FIP Universitas Negeri Malang.


1 komentar:

  1. Halo... Boleh nitip link gak? Itu utk daftar pustaka atas namaku Aminnatul Widyana, tolong diganti dg www.amiwidya.com
    Hubungi aq di 085232632515 utk informasi lebih jelasnya.

    BalasHapus